Nurhadi, S.Sos.I., M.H.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam dan ikhsan, nikmat sehat, dan nikmat kesempatan sehingga kita dapat kembali hadir di rumah Allah ini untuk menunaikan kewajiban salat Jumat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam hidup, penolong di dunia, penyelamat di alam kubur, dan pemberat amal di akhirat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dua pekan kita telah meninggalkan satu bulan yang agung, satu bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka, yaitu bulan Ramadan. Sebulan penuh kita ditempa menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah. Kita dibiasakan bangun malam, menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memakmurkan masjid.
Namun hari ini, setelah Ramadan berlalu, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing:
Apakah Ramadan benar-benar telah mengubah kita?
Apakah Ramadan hanya lewat di kalender kita?
Apakah Ramadan hanya membuat jadwal makan kita berubah?
Ataukah Ramadan benar-benar telah membersihkan hati, meluruskan akhlak, dan memperkuat hubungan kita dengan Allah?
Inilah pertanyaan besar yang harus kita jawab dengan kejujuran iman. Karena sesungguhnya, keberhasilan seseorang dalam Ramadan bukan hanya diukur dari berapa hari ia berpuasa, berapa kali ia khatam Al-Qur’an, atau berapa rakaat ia tarawih. Tetapi ukuran yang paling nyata adalah:
bagaimana keadaan dirinya setelah Ramadan berlalu.
Jika setelah Ramadan seseorang menjadi lebih taat, lebih rajin salat, lebih menjaga lisannya, lebih peduli kepada sesama, lebih lembut kepada keluarga, lebih dekat dengan Al-Qur’an, maka itu pertanda Ramadan telah meninggalkan bekas cahaya dalam hidupnya.
Tetapi jika setelah Ramadan berlalu, seseorang kembali malas salat, kembali ringan bermaksiat, kembali akrab dengan dusta, ghibah, fitnah, dan kemarahan, maka sesungguhnya ia sedang berada dalam bahaya besar. Jangan-jangan Ramadan hanya singgah di tubuhnya, tetapi tidak pernah benar-benar masuk ke hatinya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan kita beribadah hanya pada bulan Ramadan. Allah memerintahkan kita beribadah sepanjang hayat.
Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini sangat tegas. Ibadah tidak berhenti setelah Ramadan. Ketaatan tidak selesai setelah Idulfitri. Selama nyawa masih dikandung badan, selama jantung masih berdetak, selama mata masih bisa memandang dan kaki masih mampu melangkah, maka selama itu pula kita diperintahkan untuk menjadi hamba Allah yang taat.
Maka jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan, tetapi melupakan-Nya di bulan-bulan setelahnya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Para ulama salaf dahulu sangat takut jika ibadah mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah. Mereka tidak merasa bangga dengan amalnya. Mereka justru khawatir, apakah puasanya diterima? Apakah salat malamnya diterima? Apakah tilawahnya diterima? Apakah sedekahnya diterima?
Karena itulah, salah satu tanda amal diterima adalah munculnya amal saleh setelahnya.
Para ulama berkata:
ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
“Balasan dari satu kebaikan adalah dimudahkannya melakukan kebaikan berikutnya.”
Artinya, jika setelah Ramadan kita masih semangat ke masjid, masih ringan membaca Al-Qur’an, masih senang bersedekah, masih suka berdoa, maka itu pertanda baik.
Sebaliknya, jika setelah Ramadan selesai lalu semua amal ikut berhenti, maka itu tanda bahwa ada yang salah dalam hubungan kita dengan Allah.
Ramadan bukan sekadar acara tahunan, melainkan sekolah ruhani. Dan sekolah itu seharusnya melahirkan perubahan.
Kalau seseorang selesai belajar tetapi tidak berubah, maka ada yang gagal dalam proses belajarnya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Setelah Ramadan, datanglah bulan Syawal. Banyak orang menganggap Syawal sebagai bulan santai, bulan makan-makan, bulan silaturahmi, bulan hajatan, bulan jalan-jalan. Semua itu tidak salah. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa Syawal juga adalah bulan ibadah.
Bahkan bisa dikatakan, Syawal adalah bulan pembuktian.
Ramadan adalah latihan.
Syawal adalah ujian. Kalau di bulan Ramadan kita rajin karena suasana mendukung, masjid ramai, orang-orang berpuasa, setan dibelenggu, maka di bulan Syawal inilah kualitas iman kita diuji. Apakah kita masih tetap taat ketika suasana ibadah sudah tidak seramai kemarin?
Di sinilah letak pentingnya istiqamah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu, walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberi pelajaran besar kepada kita:
Allah tidak menuntut kita menjadi sempurna seketika.
Tetapi Allah mencintai hamba yang konsisten dalam kebaikan.
Maka setelah Ramadan, jangan paksa diri dengan target besar yang sulit dipertahankan. Mulailah dari yang sederhana namun istiqamah:
- tetap salat berjamaah,
- tetap membaca Al-Qur’an,
- tetap bersedekah,
- tetap bangun untuk tahajud walau tidak setiap malam,
- tetap menjaga lisan dan akhlak.
Karena amal kecil yang terus hidup lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya semangat sesaat.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Salah satu ibadah istimewa di bulan Syawal adalah puasa enam hari di bulan Syawal.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
ini adalah peluang pahala yang luar biasa. Puasa Ramadan selama sebulan, lalu ditambah enam hari di bulan Syawal, oleh Allah diberi ganjaran seperti berpuasa setahun penuh.
Maka jangan lewatkan kesempatan ini. Puasa Syawal adalah tanda bahwa seorang mukmin tidak cepat puas dengan amalnya. Ia selalu ingin menambah kedekatan kepada Allah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jaga hasil didikan Ramadan ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang rajin hanya karena suasana, lalu kembali lalai ketika suasana telah berlalu.
Jadilah hamba Allah yang istiqamah. Jadilah hamba Allah yang tetap taat meski Ramadan telah lewat. Jadilah hamba Allah yang menjadikan Syawal sebagai pintu untuk hidup lebih baik.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah Ramadan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menguatkan kita untuk terus beribadah di bulan Syawal dan bulan-bulan setelahnya.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ



